Showing posts with label artikel pilihan. Show all posts
Showing posts with label artikel pilihan. Show all posts

Monday, June 14, 2010

Ilmu membangun bangsa

Peran Pendidikan dalam Membangun Bangsa

September 4, 2009 at 10:36 am (Pendidikan)
Tags: Pendidikan, peran pendidikan dalam membangun bangsa

Tidak ada kegiatan bangsa yang lepas dari peran pendidikan. Bahkan dalam banyak hal peran pendidikan sangat menentukan untuk dapat melakukan kegiatan yang bermutu. Sebab itu setiap bangsa menjadikan pendidikan kegiatan utama dalam mengusahakan kemajuannya. Dengan mengusahakan kemajuan sekali gus dibangun kekuatan bangsa itu.

Sebab utama mengapa pendidikan berpengaruh terhadap setiap kegiatan bangsa adalah karena faktor manusia. Hampir tidak ada kegiatan bangsa yang tidak memerlukan peran manusia. Bahkan peran manusia sangat menentukan dalam pelaksanaan berbagai kegiatan itu, juga ketika terjadi kemajuan teknologi yang amat pesat. Dalam kemajuan teknologi itu banyak pekerjaan manusia dapat digantikan oleh peran mesin atau robot. Meskipun demikian, juga penggunaan mesin dan robot itu banyak ditentukan peran manusia. Malahan diperlukan peran manusia yang makin cerdas dan arif bijaksana. Faktor manusia juga amat penting bagi bangsa dalam memperkuat kondisi mentalnya. Meskipun ada yang berpendapat bahwa Nation State atau Negara-Bangsa berakhir eksistensinya dalam masa globalisasi sekarang ini, dalam kenyataan tetap Negara-Bangsa menjadi aktor utama dalam arena dunia. Untuk itu peran nasionalisme tetap penting yang amat tergantung dari sikap warga bangsa itu. Melalui pendidikan pula dapat dan harus ditumbuhkan kondisi mental para warga bangsa itu, khususnya semangat nasionalisme yang kuat. Namun pembangunan manusia tidak hanya untuk kepentingan bangsa. Pembangunan manusia juga dan terutama untuk kepentingan manusia itu sendiri.

Perjuangan kita sejak permulaan abad ke 20 dan sebelumnya adalah untuk menjadikan Manusia Indonesia mahluk yang bermartabat dan tidak kalah dari manusia lainnya, terutama dari bangsa-bangsa yang sudah maju. Kita ingin agar Manusia Indonesia cerdas, mempunyai perasaan yang halus dan peka, sehingga dapat menghasilkan kehidupan yang bermakna. Malahan kita ingin Manusia Indonesia lebih dari itu, kalau kita perhatikan kelemahan-kelemahan yang masih ada pada bangsa kita.

Salah satu kelemahan Manusia Indonesia adalah kecenderungan menjadi manja karena hidup dalam Alam yang serba murah dan mudah. Akibatnya adalah bahwa berbagai potensi positif yang dimiliki Manusia dan Alam Indonesia tidak dapat berkembang secara wajar untuk kepentingan Indonesia sendiri. Kelemahan ini cenderung membuat kondisi mental yang kurang kuat, mudah menyerah dan mencari jalan termudah yang belum tentu memberikan penyelesaian terbaik. Energi yang kurang dapat dikembangkan Manusia Indonesia yang manja itu juga berakibat kurang kuatnya karakter. Antara lain itu menonjol dalam kenyataan bahwa Manusia Indonesia pandai membuat teori dan konsep, tetapi kurang sekali dalam implementasi teori dan konsep itu karena kurang kuatnya komitmen. Juga lemahnya disiplin adalah akibat kelemahan ini, disertai kurang ada niat untuk menghasilkan yang terbaik dalam berbagai perbuatan. Tidak jarang pekerjaan dilakukan dengan “asal jadi”. Juga nampak sekali sekarang betapa rendahnya semangat nasionalisme di banyak kalangan di Indonesia, jauh lebih rendah dari semangat nasionalisme di Vietnam, Thailand dan Singapura. Kelemahan yang amat mendasar ini harus dapat kita atasi dan perbaiki kalau kita ingin Indonesia menjadi negara dan bangsa yang selamat, maju dan sejahtera.

Untuk mewujudkan Manusia Indonesia yang kuat menghadapi Alam yang mudah dan murah diperlukan pendidikan. Dengan pendidikan kita transfer dan tumbuhkan pada Manusia Indonesia nilai-nilai, kecerdasan dan kecakapan, serta sikap mental yang ulet dan tangguh tetapi juga perasaan yang halus.

Karena faktor manusia demikian penting dalam kehidupan bangsa, maka pendidikan menjadi amat menentukan perannya. Sebab partisipasi yang dilakukan manusia harus bermutu agar memberikan hasil semaksimal mungkin.. Maka agar partisipasi manusia benar-benar bermutu, ia harus memperoleh pendidikan yang diperlukan.

Sudah lampau masanya bahwa manusia secara alamiah dapat tumbuh menjadi manusia bermartabat, manusia yang melakukan pekerjaan dalam masyarakat secara efektif. Manusia harus dibantu untuk memahami dan meraih berbagai nilai kehidupan yang menjadikannya bermartabat. Selain itu ia harus disiapkan untuk melakukan berbagai pekerjaan yang dihadapi.

Pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk menyampaikan kepada orang atau pihak lain segala hal untuk menjadikannya mampu berkembang menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermutu, dan dapat berperan lebih baik pula dalam kehidupan lingkungannya dan masyarakatnya. Hal yang disampaikan itu meliputi sistem nilai, pengetahuan, pandangan, kecakapan dan pengalaman. Makin baik penyampaian itu, makin besar kemungkinan manusia menjadi bermartabat. Dan makin baik perannya dalam kehidupan lingkungan dan masyarakatnya. Itu juga menjadi persiapan yang baik untuk menghadapi pekerjaan dan kehidupan, menjadikan manusia makin mampu melakukan pekerjaannya.

Penyampaian itulah yang dilakukan pendidikan, baik secara mental, intelektual maupun fisik. Dapat dikatakan bahwa pendidikan itu harus selalu bermutu karena pendidikan yang tidak bermutu tidak ada manfaatnya sama sekali. . Bahkan pendidikan yang tidak bermutu dapat berakibat sebaliknya dengan menghasilkan manusia asosial, manusia yang menjadi ancaman bagi kehidupan. Pendidikan yang tidak bermutu juga tidak dapat menyiapkan manusia secara baik dan benar untuk melakukan pekerjaannya. Ini berarti bahwa pendidikan yang tidak bermutu bukanlah pendidikan. Hal ini seringkali kurang diperhatikan orang-orang yang menjalankan fungsi pendidikan.

Agar dapat menjalankan sesuatu dengan baik, manusia dipengaruhi oleh faktor mentalnya, faktor inteleknya dan faktor fisiknya. Sebab itu pendidikan harus selalu mengandung aspek mental, aspek intelektual dan aspek fisik yang diusahakan dalam harmoni satu sama lainnya.

Pada dasarnya pendidikan dilakukan di lingkungan keluarga, dalam masyarakat dan melalui sistem sekolah. Karena setiap manusia bermula kehidupannya dengan dilahirkan ibunya dalam lingkungan keluarganya, maka dapat dikatakan bahwa Pendidikan di Lingkungan Keluarga menjadi landasan segenap usaha pendidikan sepanjang hidup manusia. Celakalah satu bangsa yang tidak dapat menjaga kehidupan keluarga yang teratur.

Pendidikan di Lingkungan Keluarga sebagai landasan kehidupan bangsa.

Pendidikan sudah harus dimulai sejak bayi masih dalam kandungan. Berbagai usaha dilakukan agar dapat dikomunikasikan kepada si calon bayi hal-hal yang menjadikannya nanti manusia yang baik dan bermutu. Dalam kebudayaan lokal di Indonesia, seperti di Jawa, ada tradisi berupa macam-macam upacara untuk melakukan komunikasi itu.

Setelah lahir bayi perlu diurus dengan sebaik-baiknya agar tetap hidup. Pemberian air susu ibu atau ASI merupakan hal yang penting dan diakui manfaatnya oleh ilmu pengetahuan. Selain ASI penting dilihat dari sudut makanan dan fisik bayi, pemberian ASI juga ada hubungannya dengan faktor mental, seperti penanaman disiplin pada bayi. Seperti memberikan ASI pada waktu tertentu dan tidak sembarang waktu, umpama saja untuk menghentikan bayi menangis. Dengan tumbuhnya kebiasaan tentang waktu menerima ASI dan tidak pada waktu lain pada bayi terwujud kebiasaan mengikuti aturan orang lain. Demikian pula keteraturan waktu dan cara mandi menimbulkan pada bayi dasar untuk hidup teratur nanti.

Makin tumbuh besar bayi itu makin banyak hal yang dapat dilakukan untuk penyampaian nilai kehidupan. Juga makin banyak hal dijadikan pengetahuan bayi agar daya pikirnya makin aktif. Yang amat penting adalah cinta kasih ibu karena hal itu menimbulkan rasa aman bagi bayi yang kemudian dapat menjadi rasa percaya diri yang wajar. Akan tetapi tidak boleh ada tindakan yang bernada memanjakan. Tidak ada hal yang lebih merusak masa depan anak dari pada pemanjaan. Sebaliknya bayi “ditantang” melakukan hal-hal baru, seperti berani naik tangga ketika sudah dapat berjalan dan tidak digotong ibu. Diberikan kesempatan untuk banyak bermain, sebaiknya bersama-sama anak yang sebaya. Sebab itu adalah baik sekali kalau pada umur 3 tahun anak sudah masuk dalam kelompok main (play group) agar mulai membiasakan diri bergaul dengan anak lain. Dalam permainan diberikan kebebasan melakukan banyak hal, termasuk mencoret-coret gambar untuk menyatakan perasaannya. Di rumah disiplin dipelihara terus, sehingga anak menyadari bahwa kasih sayang tidak berarti membolehkan segala kemauan anak. Anak mulai tahu bahwa ia bebas berbuat tetapi selalu dalam batas tidak mengganggu ketertiban keluarga dan tidak merugikan pihak lain. Dengan begitu sudah mulai kecil dibangun kekuatan mentalnya. Anak dibiasakan untuk selalu mengusahakan yang terbaik.

Makin besar anak, makin banyak pengetahuan disampaikan kepadanya dan makin banyak kemampuan ditumbuhkan. Bersama itu anak diberi tanggungjawab yang harus dilaksanakannya. Seperti membereskan tempat tidur sendiri, turut mengatur dan membersihkan rumah, membantu dalam asah-asah piring sehabis makan, dan lainnya. Anak harus memperoleh kesadaran bahwa ia mempunyai tempat dan fungsi dalam rumah tangga yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya sebelum ia bermain-main di luar rumah. Namun segala tanggungjawab itu harus disertai kegembiraan sehingga tidak dirasakan sebagai beban yang memberatkan hidupnya. Juga mulai ditumbuhkan rasa cinta Tanah Airnya melalui cerita, wejangan orang tua dan ajakan wisata untuk mengenal Tanah Airnya lebih baik.

Kebiasaan memperoleh kasih sayang ibu dan bapak membuat anak juga sanggup memberikan kasih sayang kepada orang lain, baik kepada saudara-saudaranya sendiri maupun kepada orang lain di luar keluarganya.

Dalam pada itu anak sudah mulai mengikuti pendidikan sekolah, dimulai dengan Taman Kanak-Kanak, kemudian ke SD dan SMP. Bersamaan dengan itu pengetahuannya makin bertambah dan timbul dorongan untuk tahu lebih banyak menjadi makin kuat. Sebab itu di rumah anak dilayani dengan semestinya kalau mengajukan pertanyaan. Anak bahkan didorong agar belajar yang baik di sekolah dan kalau perlu dibantu ketika menghadapi pelajaran sekolah yang dianggap sukar oleh anak. Anak didorong untuk berbuat paling baik, berprestasi dalam apa pun yang dikerjakan. Juga makin disadarkan kebangsaannya melalui ulasan mengenai keadaan bangsa dan kelilingnya. Sebaliknya, kalau menunjukkan sikap malas dan ogah-ogahan perlu dicari sebabnya mengapa demikian. Dengan begitu anak diusahakan menjadi orang yang dinamis tapi stabil pikiran dan perasaannya. Ketika mulai timbul perasaan asmara di masa pubertasnya, hal itu tidak dilarang. Melainkan ia diberi pedoman bagaimana menyalurkan perasaan itu dalam sikap dan perbuatan yang tidak merugikan dirinya. Dalam hal ini hubungan yang erat dengan ibu adalah amat penting.

Ketika sudah pada usia 16 tahun anak makin dipengaruhi untuk mengembangkan vitalitasnya dan menunjukkan prestasi dalam hal atau bidang yang ia sukai. Tauladan orang tua untuk anak adalah penting sejak anak kecil, tetapi terlebih penting ketika anak itu berumur 13-16 tahun dan makin kritis serta mampu membandingkan. Penyaluran emosi yang makin kuat perlu mendapat pedoman yang dikomunikasikan dengan baik sehingga dimengerti dan diterima anak. Kalau tidak, maka ia akan memberontak . Dialog antara anggota keluarga makin diperlukan. Ganjaran (reward) terhadap perbuatan yang menonjol dan unggul harus diberikan agar menstimulasi perkembangan lebih tinggi. Faktor patriotisme harus semakin menonjol dalam memotivasi dan mendorong perbuatan yang berprestasi.

Ketika menginjak umur dewasa di atas 18 tahun pendidikan dalam keluarga pada dasarnya telah berakhir. Anak telah menjadi manusia dewasa. Makin banyak pendidikan diperolehnya dari luar keluarga, baik dalam masyarakat maupun di lembaga pendidikan. Meskipun begitu harus terus dipelihara hubungan orang tua dan anak yang dilandasi kasih sayang, tauladan yang tepat dan komunikasi yang lancar untuk mendiskusikan segala hal yang dirasakan perlu oleh anak. Namun sekarang orang tua menempatkan diri sebagai penasehat anak dan membiasakan anak mengambil keputusannya sendiri. Ia harus mulai sadar bahwa baik buruk kehidupannya adalah di tangannya sendiri, sedangkan orang lain termasuk orang tua adalah penasehat. Dengan begitu akan timbul rasa tanggungjawab yang kuat dalam menentukan segala sesuatu dan ada kemampuan mengambil keputusan yang makin cermat.

Tanggungjawab atas Pendidikan Keluarga

Pendidikan dalam Keluarga adalah tanggungjawab orang tua, dengan peran Ibu lebih banyak. Karena Ayah biasanya pergi bekerja dan kurang ada di rumah, maka hubungan Ibu dan anak lebih menonjol. Meskipun begitu peran Ayah juga amat penting, terutama sebagai tauladan dan pemberi pedoman, terutama soal cinta Tanah Air dan patriotisme. Kalau anak sudah mendekat dewasa peran Ayah sebagai penasehat juga amat penting, karena dapat memberikan aspek berbeda dari yang diberikan Ibu. Oleh karena hubungan Ayah dan anak relatif terbatas waktunya, terutama di hari kerja, maka Ayah harus mengusahakan agar pada hari libur memberikan waktu lebih banyak untuk berhubungan dengan anak.

Makin banyaknya jumlah Ibu-bekerja (working mother) menimbulkan persoalan tidak sedikit bagi pendidikan anak. Sebaliknya, kalau penghasilan keluarga tergantung pada penghasilan Ayah saja yang kurang memadai untuk kehidupan keluarga, juga akan timbul persoalan pendidikan yang tidak sedikit. Sebab itu gejala yang makin meluas tentang Ibu-bekerja tidak harus ditolak, tetapi dicari jalan agar tidak terjadi kekurangan yang fatal untuk pendidikan. Salah satu cara adalah kehadiran nenek di lingkungan keluarga. Juga penempatan anak dalam lembaga Penitipan Anak ketika anak itu masih kecil merupakan cara yang tidak salah, asalkan diketahui bahwa penyelenggaraannya dilakukan oleh orang-orang yang dapat dipercaya. Meskipun demikian, para Ibu-bekerja harus selalu mengusahakan waktu maksimal untuk dapat berhubungan dengan anaknya.

Ada pendapat berbeda tentang pendidikan dalam keluarga, yaitu tentang pemberian kebebasan kepada anak. Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya sejak permulaan diberikan kebebasan maksimal kepada anak. Dalam hal ini faktor pendidikan kepada anak sudah berakhir sebelum anak itu dewasa. Pendapat demikian terutama banyak ditemukan di Amerika Serikat yang kuat menganut prinsip liberalisme. Pendapat ini menganut sikap bahwa berbagai larangan dan pedoman kepada anak hanya menimbulkan keterbatasan pada anak untuk mengembangkan dirinya secara wajar. Dengan begitu potensi dan bakat anak tidak dapat berkembang menjadi kekuatan nyata.

Mungkin saja pendapat liberal ini baik untuk anak Amerika, tetapi dalam kebudayaan Timur dan khususnya Indonesia yang memandang kebersamaan sebagai sumber kebahagiaan, rupanya sikap liberal itu kurang cocok. Mungkin hanya cocok bagi keluarga yang begitu kebarat-baratan (westernized) sehingga sudah kehilangan akarnya pada kebudayaan bangsanya sendiri. Toh dalam kenyataan terbukti bahwa keluarga yang menerapkan pendidikan keluarga dapat menghasilkan pribadi-pribadi yang tidak kalah mutunya dalam kehidupan dari pribadi hasil pendidikan liberal. Hal itu cukup banyak dibuktikan oleh orang-orang Jepang yang bergulat dalam berbagai bidang dengan orang Amerika, termasuk dalam ilmu pengetahuan, bisnis, olahraga dan lainnya.

Pendidikan dalam Keluarga dapat memberikan pengaruh besar kepada karakter orang. Sebab itu kunci utama untuk menjadikan Manusia Indonesia tidak manja dan hidup energik terletak dalam pendidikan dalam keluarga. Kalau kita membaca pernyataan berbagai pemimpin besar dunia, maka banyak di antara mereka memberikan nilai penting kepada pendidikan dalam keluarga. Juga ada yang menyebutkan pengaruh kuat dari Kakek atau Nenek. Antara lain Bung Karno selalu mengagungkan pengaruh Ibu. Juga Ki Hadjar Dewantara mengemukakan pentingnya Pendidikan dalam Keluarga.

Dan karakter yang ditumbuhkan adalah faktor yang amat penting dalam kepribadian orang, karena banyak mempengaruhi prestasi dalam berbagai bidang. Baik itu bagi pemimpin masyarakat, olahragawan, kaum bisnis maupun para pendidik sendiri. Ilmu pengetahuan dan kemampuan teknik adalah penting bagi pencapaian keberhasilan, tetapi tidak akan mampu mencapai hasil maksimal kalau tidak disertai karakter. Kita melihat sekarang keadaan masyarakat Indonesia yang prestasinya tidak sebanding dengan kemampuan teknik dan penguasaan ilmu pengetahun. Hal itu terutama karena pada waktu ini faktor karakter kurang menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan. Rendahnya patriotisme adalah gambaran lemahnya karakter bangsa. Ini semua harus menjadi salah satu hasil penting usaha pendidikan bangsa, baik dalam pendidikan dalam keluarga, pendidikan sekolah maupun pendidikan dalam masyarakat. Akan tetapi karena pendidikan pada anak paling dulu dilmulai dalam pendidikan dalam keluarga, maka pendidikan dalam keluarga yang seharusnya memberikan landasan yang kemudian diperkuat dan dilengkapi dalam pendidikan sekolah dan pendidikan dalam masyarakat.

Sudah amat perlu diadakan seruan, ajakan dan pemberian tauladan kepada para orang tua untuk memperhatikan pendidikan yang harus mereka lakukan dalam keluarga. Mungkin sekali banyak di antara para orang tua merasa kurang mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Maka sangat penting Pemerintah atau organisasi lain mengeluarkan Buku Pedoman yang dapat menjadi pegangan bagi para orang tua dalam melaksanakan pendidikan dalam keluarga. Akhirnya memang tergantung pada para orang tua sendiri apakah pedoman itu dilaksanakan atau tidak. Akan tetapi karena secara alamiah orang tua ingin anaknya baik dan sukses, maka besar kemungkinan mayoritas orang tua akan berusaha menerapkan pedoman itu dalam hidup mereka.

Sumber: http://priendah.wordpress.com/2009/09/04/peran-pendidikan-dalam-membangun-bangsa/

Wednesday, January 27, 2010

Ulama & Penjenayah Dibentuk Dari Rumah

Minggu lalu, ketika menjamah makanan makan malam di sebuah restoran semasa dalam perjalanan ke airport, rakan-rakan yang bersama menghantar saya berbicara berkenaan pelbagai isu. Hj Rosman kemudian menzahirkan kebimbangan beliau berkenaan kes jenayah yang wujud di Malaysia. Kes-kes sedemikian agak kurang berlaku di Bahrain.

Natijah dari kebimbangan tersebut, beliau bertanya

"pada pandangan ustaz, macam mana cara untuk selesaikan masalah ini"

Saya berfikir sejenak, sudah tentulah jawapan paling mudah bagi seorang ustaz adalah berkata

"kita kena kembali kepada Islam"

Tetapi disebabkan jawapan itu terlalu umum, maka saya mengambil keputusan untuk tidak memberikan idea itu.

"Ia perlukan penyelesaian secara kolektif, semua pihak perlu ada kesedaran untuk merubah keadaan" demikian jawapan permulaan saya.

"Namun yang paling utama perlu berperanan, adalah ibu bapa atau keluarga"

Saya mengulang kembali ingatan sedih dan pedih kita kepada kes Al-Marhumah Nurin Jazlin yang dibunuh kejam dan masih gagal diselesaikan oleh pihak berkuasa Malaysia sehingga kini.

"Bukankah Nurin dibunuh oleh seorang manusia?, sudah tentunya manusia ini dilahirkan ke dunia oleh seorang ibu dan pastinya dia punyai bapa dan keluarga"

"Namun apakah yang menjadikannya sebegitu kejam?" saya menerang sambil mengajak berfikir.

Memang benar, pelbagai faktor menyumbang, namun bagi saya ia bermula dari hasil didikan pertama ibubapa, sesuai dengan apa yang disabdakan oleh nabi s.a.w

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang terpotong hidungnya? (Riwayat Al-Bukhari & Muslim)

Sudah tentu juga ibubapa yang berperanan untuk mencorakkan seorang bayi sehingga menjadi seorang Muslim, mukmin yang bertaqwa.

Kita tidak nafikan faktor persekitaran yang sentiasa menghurungi anak-anak kita khususnya di sekolah, melalui internet, rakan-rakan, games, TV dan lainnya.

JANGAN DIDIK ANAK SECARA SPONTAN

Namun tidak boleh dinafikan, ibubapa mempunyai saham terbesar. Anak-anak adalah satu tugas terbesar buat ibubapa yang sering diabaikan. Sedangkan mereka semua adalah suatu aset dan ‘pelaburan' terpenting. Namun amat kerap mereka menjadi mangsa kurang teliti, kurang perhatian dan tiada perancangan jitu oleh sang ibubapa.

Akhirnya, sebuah aset yang ditangani secara lebih kurang akan menghasilkan hasil yang bukan lebih kurang juga, tetapi hasil lebih buruk malah membawa padah.

Memang benar, kegagalan merancang pendidikan anak-anak adalah sebuah kegagalan masa depan.

Ramai yang merasakan, pendidikan anak-anak boleh dibuat secara spontan, bergantung kepada hari dan masa. Dalam kata lain, bergantung kepada keadaan.

Hakikatnya, anak tidak boleh dididik secara spontan, ia memerlukan satu pelan perancangan khas untuk menjadikan lebih mudah dibentuk. Mendidik mereka seperti mengendalikan sebuah syarikat awam yang sentiasa memerlukan plan induk, teknik khas, contingency plan dan monitoring system.

Kerana itu kita perlukan seorang Chief Operating Officer (COO) untuk anak-anak. Menurut teori ideal Islam, COO yang paling ideal bagi pendidikan anak-anak adalah seorang IBU. Bapa bertindak sebagai Chief Executive Officer (CEO) yang mana,, ruang lingkup tugasan, peranan dan tanggungjawabnya lebih besar dan menyeluruh.

"Namun apabila hari ini kedua-dua ibubapa sibuk mencari nafkah, aset di rumah terabai dek kerana pendapatan RM 2,000 (purata) atau RM 5,000 sebulan si ibu"

Anak-anak diswastakan kepada nursery yang kurang pengalaman. Kurang penghayatan, kurang sensitiviti dan seumpamanya.

Kita boleh menghantar mereka ke pelbagai jenis kursus dan kem untuk menyuntik sesuatu, namun pokok pangkalnya tetap di atas bahu kita selaku ibubapa. Kalaupun anak telah berubah hasil tarbiyah di dalam kursus, mereka akan tetap melupakan nilai baik tersebut jika ibu bapa masih di takuk lama.

WAHAI IBUBAPA, HORMATI ANAKMU NESCAYA KAMU DIHORMATINYA

"Treat your child with respect" itu saranan Richard Templer, penulis buku parenting yang popular.

Saya amat selesa dengan saranan tersebut, seorang ibubapa yang bijak perlu mengendalikan dan melayan anak-anak mereka dengan penuh penghormatan. Kelak anak-anak akan mencontohi tatacara yang sama.

Biasanya apabila orang dewasa meminta bantuan seorang dewasa yang lain, mereka akan menggunakan bahasa yang sopan. Itu adalah kerana mereka sedar, yang diminta itu tidak mesti untuk membantu, kita perlukan ihsan mereka untuk membantu. Atas sebab itu, kata-kata sopan digunakan, demi memujuk dan mearih ihsan.

Bukankah elok jika cara yang sama untuk anak-anak kita, cuba kita jangan merasakan si anak sentiasa WAJIB untuk mematuhi arahan kita. Kelak nanti si anak apabila meminta kepada ibubapanya atau orang lain, dirasakan mereka semua wajib menurut arahannya.

Si anak juga kerap meminta ibubapanya, mainan itu dan ini. Namun sedikit yang diperolehi.

Maka si anak akan menghadapi kekeliruan.

"ibubapa minta, semua aku kena buat, aku minta, ibubapa tak buat semua pulak"

Lebih teruk dari itu, arahan dari ibubapa kerap dihamburkan dengan kata-kata perintah tanpa hormat dan pujukan serta ihsan. Contohnya:

"makan tu"

"Habiskan ini!"

"Pergi mandi!"

"Cepat masuk kereta!"

"Gosok gigi!"

"Kenapa sepah sangat ni, cepat bersihkan!"

"Heiii, kenapa buat macam tu!"

Itulah yang kerap dilaungkan oleh ibubapa, memekik melolong setiap pagi dan petang serta malam.

Setiap hari anak akan mendengar lolongan kuat menerjah telinga dan hatinya. Kalimah-kaalimah arahan dan larangan sebegitu sudah terlalu biasa, lali hingga ia menjadi masak dan sebati dek pemikiran dan hatinya.

Pada masa yang sama, kita akan dengar kedapatan ibubapa yang mengeluh kerana anaknya kurang beradab ketika remaja dan dewasa. Sedarkah bahawa si anak sebenarnya telah ‘berjaya'. Ya berjaya dalam mencontohi model yang diterapkan oleh ibubapanya sendiri. Namun kini ibubapa merasa sedih dan tidak selesa. Sedarkah ibubapa bahawa si anak yang dibesarkan sedemikian rupa menyangka itulah cara arahan dan permintaan yang terbaik. Bukankah itu yang ditunjukkan oleh ibubapa mereka?.

Justeru, lebih kasar sang ibubapa terhadap anaknya, akan kasar jualah anak terhadap ibubapanya dan orang lain, khususnya di ketika remaja dan dewasa. Malah lebih mendukacitakan, itulah cara yang akan dibawa ke sekolah, mempengaruhi kawan-kawan dan akhirnya menjadi penjenayah yang merasakan tindakannya ‘ok' atau tidak bersalah. Puncanya dari cara didikan dan layanan ibubapa yang kasar.

Patut kita sedari di awal bulan hijrah 1431 ini, bahwa anak layak mendapat sebuah penghormatan, semudah-mudah penghormatan adalah dengan memilih ayat dan kata-kata yang manis didengari, intonasi yang sedap didengar. Cuba tambah sikit sahaja sebagai contoh

"boleh tolong ibu ambilkan barang itu"

"Adik baikkan, tolong ummi kemaskan meja ini boleh?"

Dan pelbagai lagi bentuk ayat yang serupa dengannya.

Di samping itu, jangan sesekali memungkiri janji,, membohongi anak dan lain-lain kelakuan negaitf. Selain anak akan mengambil contoh, mereka juga akan merasa kurang penting berbanding yang lain.

TUNJUKKAN PERHARGAAN TERHADAPNYA

Juga menjadi kebiasaan ibubapa hari ini. Bangun sahaja anak dari tidur dan terus dia menghala ke dapur.

Ibu yang terlihat anak, ayat pertamanya :

"hah apa lagi tu, dah gosok gigi, pergi basuh muka dan gosok gigi!"

"Lepas tu pergi buat itu ini bla la bla"

"Mak boleh tolong angah buat kerja ini tak" pinta si anak lembut

"Ehhh nanti-nanti!, mak tengah sibuk goreng ayam ini" mungkin itu jawapan si ibu.

Terasa dalam hati si anak, dirinya ibarat tidak berharga, kemunculannya hanya bersedia untuk diarah dan ditengking.

Permintaan tidak banyak erti buat si ibu, ‘gorengan ayam lebih utama dari perminataannya.

Malah ketika pulang dari sekolah juga, ibubapa tidak menyambut tetapi dibiarkan anak begitu sahaja.

Tahap si anak ibarat sebuah perabot buruk dan pekakas rumah sahaja. Wujudnya tidak disedari, hilangnya tidak diendah.

Pastinya, anak akan menyimpan itu sebagai standard kehidupan. Nanti kelak itu jugalah yang diperlakukan di masa hadapan.

Kalau ada perhatian dari ibubapa, mungkin hanya perintah demi perintah, larangan demi larangan sahaja.

Justeru, sudah sampai masa kita mengubahnya, kita berhijrah.

Sedarilah bahawa, tatkala kita sedang melakukan tugasan harian di rumah, mengemas baju, memasak dan sebagainya, tatkala anak muncul, anak punyai priority yang lebih tinggi. Jangan dijadikan alasan, tengah buat kerja, basuh baju, gosok baju, jahit baju dan lainnya, kerana tatkala anak muncul, itulah kerja yang paling besar keutamaannya untuk dipenuhi.

Tunjukkan rasa seronok dan gembira kita selaku ibubapa ketika melihatnya, sewaktu pulang dari sekolah (atau sewaktu kita pulang dari kerja), melihatnya di awal pagi dan berpisah dengannya ketika waktu malam untuk tidur. Ia boleh dilakukan dengan ucapan-ucapan yang baik, atau sedikit pelukan dan sentuhan tanda mereka penting buat kita.

KESIMPULAN

Semoga dengan sedikit peringatan untuk diri ini, kita semua mampu berubah menjadi ibubapa yang berperancangan dan memperbaiki pendidikan anak-anak.

Kerana anak-anak itulah kelak bakal menjadi sama ada Imam besar, Pemimpin Negara, Ulama Besar, atau sebaliknya menjadi perompak terulung, penjenayah bersiri dan pengkorup unggul. Nauzubillah.

Perbaikilah masyarakat kita melalui kesedaran peranan ibubapa. Jenayah hakikatnya bermula dari rumah dan perlu ditangani bermula di rumah juga.

Saya TIDAK menafikan bahawa suasana persekitaran, sekoalh dan rakan juga turut memain perana dalam membentuk sikap anak-anak, namun jangan dijadikan itu semua sebagai alasan untuk kita tidak menjalankan tugas keibubapan dengan sebaiknya.

Sekian.

Zaharuddin Abd Rahman

www.zaharuddin.net

Thursday, January 7, 2010

Berkongsi nilai...


Liu Man San dan isterinya, Doreen menggunakan pengalaman puluhan tahun sebagai pendidik untuk menyebarkan kepentingan sifat-sifat murni dalam diri seorang individu.

ADA sesuatu yang masih segar dalam minda Liu Man San. Lelaki berusia 63 tahun itu masih ingat lagi insiden seorang budak nakal di dalam salah sebuah kelasnya.

"Saya ternampak budak itu sangat senyap di satu sudut. Jadi, saya pun panggilnya ke depan. Tetapi, dengan penuh reaksi, dia berdiri dan menjerit 'APA? APA? Awak nak apa?'"

"Orang lain mungkin anggap dia biadap. Padahal budak itu sebenarnya ada kisahnya sendiri," cerita Man San kepada Kosmo! dalam satu pertemuan di ibu negara baru-baru ini.

Sebenarnya, budak lelaki itu tidak pernah mendapat 'ganjaran' yang baik setiap kali namanya dipanggil guru. Jadi, tidak hairanlah dia sentiasa berpendapat nasib malang akan terus menimpanya.

Sebaliknya, Man San menghadiahkannya seketul batu dari Australia sebagai ganjaran. Ganjaran itu sebagai menghargai kepatuhannya untuk tidak membuat bising.

Cukup terkejut dengan tindakan Man San itu, budak tersebut berkali-kali menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih.

Insiden itu nyata sangat signifikan bagi golongan pendidik seperti Man San. Sekurang-kurangnya peristiwa itu adalah contoh terbaik yang membuktikan bahawa setiap orang anak sebenarnya memiliki sifat positif.

Berbekalkan ideologi tersebut, Man San dan isterinya, Doreen Liu telah menterjemahkan pengalaman puluhan tahun sebagai pendidik ke dalam sebuah naskhah sulung yang berjudul Footperints in the house (Footprints). Buku setebal 105 muka surat itu diharapkan menjadi satu panduan berguna untuk membantu golongan penjaga menerapkan nilai-nilai murni dalam anak atau pelajar.

Doreen, 63, yang bersara sebagai Guru Kanan Hal-Ehwal Murid, memiliki sekitar 40 tahun pengalaman dalam dunia pendidikan. Ibu kepada seorang anak itu memberitahu, golongan muda menjadi sasaran pembaca buku itu memandangkan karakter mereka lebih mudah dibentuk.


GURU boleh memainkan peranan dalam memupuk anak-anak ke arah yang baik. - Gambar hiasan

"Pengalaman bekerja dengan pelbagai badan bukan kerajaan (NGO) cukup menyedarkan kami. Kami nampak lambakan masalah sosial hari ini banyak yang berpunca daripada soal karakter atau sifat-sifat murni.

"Lagipun, sukar nak membentuk semula karakter atau pemikiran generasi lama. Sebab itulah kami ingin mulakan daripada golongan muda," jelasnya yang berasal dari Pulau Pinang.

Sebagai salah seorang jurulatih utama bagi sebuah projek yang diiktiraf oleh World Vision Malaysia, The Virtues Project, pasangan suami isteri ini ingin mengajak dunia berbuat baik. Bukan dengan hanya berkata-kata tetapi menterjemahkan konsep kebaikan kepada satu tindakan.

Tambahnya, sifat-sifat murni merupakan asas kepada sesuatu karakter seseorang. Demi membangunkan sifat-sifat murni ini, pengetahuan dan pemikiran seseorang tidak harus hanya dilihat dalam konteks sehala.

"Sebaliknya, pelbagai cabang pengetahuan sepatutnya berintegrasi menjadi satu. Sebab itulah, sebagai contoh, kebanyakan kontraktor pembinaan tidak melihat kepada aspek pemuliharaan persekitaran ketika membina bangunan.

"Apa yang lebih dipentingkan oleh mereka ialah struktur atau reka bentuk bangunan," kata Man San yang banyak terlibat dalam aktiviti-aktiviti amal.


SEMUA anak memang mempunyai sifat positif dan potensi untuk berbuat kebaikan.
- Gambar hiasan

Suka menyelitkan strategi-strategi penting dalam membentuk sifat-sifat murni menerusi programnya, dia berkata, segalanya harus bermula dari rumah.

Footprints yang mengadunkan pengetahuan dari segenap lapisan subjek. Sains, moral, sifat-sifat murni dan prinsip universal yang lain mengajak pembaca khasnya anak menghayati kandungan buku itu.

Terbahagi kepada lapan bab yang membawa pembaca kepada bahagian-bahagian rumah berbeza, Doreen berkata: "Sifat-sifat murni sememangnya satu anugerah untuk sesesuatu karakter."


DOREEN dan Man San bersama Linda Kavelin Popov (dua dari kiri) dan pengasas The Virtues Project, Dr. Don Popov.

Ruang tamu disifatkan sebagai destinasi paling menarik dalam sesebuah rumah. Sebabnya, di dalam bilik inilah pelbagai tindakan seseorang boleh mencerminkan keperibadian dan karakternya. Sebagai contoh, kunjungan tetamu atau kenalan ke rumah kita perlu disambut dengan kemesraan dan kemurahan hati.

Bagi memperkukuhkan pemahaman pembaca tentang topik yang disentuh, latihan-latihan mudah juga diselitkan. Malah, pemilihan subjek sains yang betul boleh memperkuatkan lagi ideologi tentang sesuatu sifat murni. Lebih mustahak lagi, ia mengingatkan pembaca dan mengajar anak bahawa manusia seharusnya hidup sebagai satu keluarga tanpa mengira faktor kaum, bangsa dan warna kulit atau rambut.

Memakan masa kurang sebulan untuk ditulis, Footprints tidak mungkin berjaya dicetak tanpa sumbangan murni seorang kenalan lama. Menggelarkan beliau sebagai seorang 'Samaritan' (orang baik) daripada pengeluar tilam terkemuka King Koil Malaysia, Man San berkata, semua orang mampu menyumbang kepada kehidupan yang lebih baik di dunia.

Setakat temu bual ini berlangsung, 2,500 naskhah cetakan awal buku ini telah berjaya dijual.

Golongan muda khasnya mempunyai potensi yang luas. Menggesa masyarakat mengubah persepsi yang menganggap 'orang muda hanya suka bersuka-ria', pasangan ini percaya golongan muda ibarat emas yang belum diasah.

"Mereka sebenarnya boleh capai banyak impian besar jika diberi peluang. Misalnya, ada seorang anak gadis ini. Dia pernah hadiri seminar sifat-sifat murni kami dan selepas tamat pengajian dia memberitahu, dia telah pergi ke Nepal.

"Untuk apa? Dia telah menyertai sebuah NGO sebagai tenaga pengajar di perkampungan terpencil di Nepal. Itulah antara kejayaan yang ditunjukkan apabila anak ada kesedaran dan sifat murni," cerita Man San.


BUKU Footprints mengandungi adunan pengetahuan daripada pelbagai subjek. - Gambar hiasan

Malah, pasangan dari Klang ini sendiri sudah menjadi tauladan terbaik. Doreen yang melibatkan diri dalam kegiatan NGO seawal tahun 1970-an banyak melancong bersama suami untuk tujuan-tujuan amal. Bekerja dengan kedaifan kelas-kelas yang tidak dilengkapi dengan peralatan asas adalah antaranya.

Namun, hanya selepas Forum Wanita Sedunia Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) di Beijing, China pada tahun 1995, mereka lebih serius untuk komited dalam kerja-kerja sosial.

"Kami mula mempertingkatkan keupayaan dalam aspek pembangunan wanita dan pendidikan untuk kanak-kanak serta golongan muda.

"Saya dan Man San kerap berkunjung ke luar negara untuk menghadiri kursus khas untuk perkembangan sosial. Hanya selepas itu, barulah kami mula mengadakan bengkel serta seminar tentang nilai sesebuah pendidikan," terang Doreen, ibu kepada seorang anak perempuan itu.


KANAK-KANAK merupakan golongan yang lebih mudah dididik berbanding orang dewasa. - Gambar hiasan

Antara organisasi yang pernah menerima khidmat mereka sebagai jurulatih sukarelawan termasuk HAWA, majlis perbandaran di Kota Kinabalu dan Sandakan, Sabah, Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR), Yayasan Bhineka di Padang, Indonesia dan kem pemulihan serenti dadah.

Bagaimana pula perancangan jangka panjang pasangan ini? Jelas Man San, dua buah buku daripada siri yang sama akan menyusul. Tetapi, mereka berharap ada individu ataupun syarikat korporat yang berminat menaja penghasilan dua buku tersebut demi kesejahteraan dunia sejagat.

Sumber: Kosmo, 8 Jan 2010.

Wednesday, January 6, 2010

Hamba & Khalifah

Rasa Kehambaan dan Rasa Kekhalifahan

Tugas atau peranan manusia di sisi Tuhan ada dua. Pertama, sebagai hamba Allah, dan kedua, sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Allah ada berfirman di dalam Al Quran:
Maksudnya: "Tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk mengabdikan diri kepada-Ku." (Surah Az-Zariat: 56)

Mengabdikan diri di sini bermaksud memperhambakan diri iaitu membuat segala sesuatu hanya kerana Allah SWT. Mengabdikan diri ada dua bentuk.

Pertama sebagai hamba dan kedua sebagai khalifah.

Sebagai hamba, manusia perlu melaksanakan ibadah-ibadah yang berbentuk khususiah (khusus). Sebagai khalifah manusia perlu pula menunaikan ibadah-ibadah yang berbentuk umumiah (umum).

Dalam ertikata yang lain, manusia perlu menegakkan dua fardhu iaitu sebagai hamba, maka dia perlu menegakkan fardhu ain, sementara sebagai khalifah pula dia perlu menegakkan fardhu kifayah. Allah ada juga berfirman:
Maksudnya: "Akan ditimpa kehinaan di mana sahaja kamu berada melainkan kamu menegakkan dua hubungan iaitu hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan sesama manusia (hablumminannas) ." (Surah Ali Imran: 112)

Menegakkan hubungan dengan Allah itu ialah peranan hamba dan menegakkan hubungan sesama manusia itu ialah peranan khalifah.



Boleh juga dikatakan bahawa sebagai hamba, manusia perlu menegakkan tamadun rohaniah dan sebagai khalifah, manusia perlu menegakkan tamadun lahiriah.

Dalam hendak menjadi hamba dan khalifah Allah ini, manusia terbahagi kepada berbagai tahap dan kategori, iaitu:

• Ada manusia yang langsung tidak tahu dan tidak sedar bahawa mereka itu adalah hamba dan khalifah Tuhan. Golongan ini ialah golongan kafir terutama golongan komunis yang menolak terus akan kewujudan Tuhan. Mereka berbuat apa sahaja yang mereka suka di muka bumi ini dan mereka menggantikan tempat Tuhan dengan nafsu mereka sendiri.

Allah berfirman di dalam Al Quran:
Maksudnya: "Tidakkah engkau lihat mereka yang mengangkat nafsu mereka sebagai Tuhan mereka." (Surah Jatsiah: 23)

• Ada golongan manusia yang tahu mereka adalah hamba dan juga khalifah Allah. Akan tetapi mereka hanya setakat tahu dan tidak lebih dari itu. Ilmu mereka tentang itu hanya bersemadi di akal fikiran mereka sahaja. Oleh yang demikian, mereka tidak ada kekuatan dan mereka cuai untuk melaksanakan tugas-tugas dan tanggungjawab mereka sebagai hamba dan sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Mereka adalah golongan awamul muslimin atau orang Islam biasa.

• Golongan yang seterusnya ialah manusia yang bukan sahaja setakat tahu tapi sudah mampu merasakan bahawa mereka itu hamba Allah sekaligus khalifah Allah di muka bumi ini. Disebabkan perkara tersebut telah meresap ke hati dan dapat dirasakan, maka golongan ini ada kekuatan dan lebih komited. Namun demikian kekuatan rasa-rasa ini berbeza-beza. Ada golongan yang rasa kehambaan dan kekhalifahan mereka itu biasa atau sederhana sahaja. Dengan itu mereka sedikit sebanyak dapat memperhambakan diri kepada Allah dan dapat pula bertanggungjawab sebagai khalifah Allah sesuai dengan kedudukan dan kemampuan mereka masing-masing. Inilah orang-orang soleh atau golongan Ashabul Yamin (golongan kanan).

• Ada golongan yang rasa kehambaan dan rasa kekhalifahan mereka lebih dalam dan lebih tajam. Justeru itu mereka lebih kuat dan lebih komited. Peranan mereka sebagai hamba dan sebagai khalifah juga lebih besar dan lebih hebat kalau dibandingkan dengan orang-orang soleh. Mereka ini ialah orang-orang Muqarrobin (orang-orang yang hampir dengan Allah).

• Ada pula golongan yang tenggelam dalam rasa kehambaan dan rasa kekhalifahan mereka. Tidak ada lagi kepentingan yang lain bagi orang yang seperti ini melainkan Allah semata- mata. Inilah golongan As-Siddiqin (yang benar).

• Dalam pada itu ada pula golongan manusia yang rasa kehambaan dan rasa kekhalifahan mereka tidak seimbang. Ada yang rasa kehambaan mereka lebih menonjol. Dengan demikian mereka banyak terdorong untuk beribadah, berwirid, berzikir, bertasbih, membaca Al Quran dan sebagainya. Peranan mereka sebagai khalifah kurang. Mereka ini ahli-ahli ibadah atau golongan abid.

• Ada pula manusia yang rasa kekhalifahan mereka pula lebih menonjol. Mereka ini banyak terdorong untuk membuat kerja-kerja kemasyarakatan dan kepimpinan selaras dengan syariat Tuhan. Ibadah mereka sederhana sahaja. Mereka ini golongan pemimpin yang baik.

Marilah kita sama-sama memupuk dan menajamkan rasa kehambaan dan rasa kekhalifahan ini kerana rasa-rasa inilah yang menjadi kekuatan bagi kita untuk melaksanakan peranan kita sebagai hamba dan sekaligus sebagai khalifah Allah. Setakat mana rasa-rasa ini dapat ditajamkan, maka setakat itulah dapat kita berperanan. Di dalam konteks yang sama, setakat mana kita dapat berperanan sebagai hamba dan sebagai khalifah, ia menjadi kayu ukur setakat mana sebenarnya tahap rasa kehambaan dan rasa kekhalifahan yang ada di dalam hati kita.

Sumber: Cikgu*Net

Monday, January 4, 2010

Pengisian hidup yang berfaedah

MEMBANTU mereka yang memerlukan tanpa mengharapkan balasan adalah sesuatu yang mulia bukan sahaja di sisi agama tetapi juga masyarakat.

Namun, berapa ramaikah yang sanggup mengorbankan masa dan tenaga untuk tugas sukarela seperti ini.

Bagi Harlina Zainudin, 37, dia sudah bergiat aktif dalam bidang sukarelawan sejak menetap di Amerika Syarikat (AS) lagi. Dia merantau ke negara Uncle Sam selama lima tahun bermula 1996 untuk untuk mencuba nasib di tempat orang.

"Di sana, saya berkawan dengan semua orang. Bermula dengan satu pertolongan kepada seorang rakan, saya dikenali sebagai sukarelawan yang membantu mereka dalam kesusahan.

"Saya turut memberi bantuan kepada orang Malaysia yang dihalau oleh tuan rumah. Mereka tinggal dengan saya sehingga mendapat rumah baru," katanya.

Kini ibu beranak satu ini menyertai Pertubuhan Misi Bantuan Kemanusiaan Selangor (Pantas). Pantas adalah sebuah organisasi di bawah kerajaan negeri yang menyalurkan bantuan kepada mangsa bencana alam dan sebagainya.

Walaupun baru menyertai Pantas, Harlina berkata, dia kini lebih dekat dengan aktiviti digemarinya sejak dulu iaitu mendampingi mereka yang memerlukan.

Harlina merupakan sukarelawan sepenuh masa. Biarpun baru setahun dengan pertubuhan itu, dia sudah mempunyai dua pengalaman membantu mangsa bencana iaitu tanah runtuh Bukit Antarabangsa, Ampang dan juga gempa bumi di Padang, Indonesia.

Kata Harlina, misi bantuan yang disertai benar-benar mengajarnya erti kehidupan dan juga kebesaran Tuhan.

"Kami berada di sana (Padang) sejak hari pertama. Saya membantu mangsa-mangsa memunggah barangan dari rumah mereka ke kawasan yang lebih selamat.

"Bila tengok kesusahan orang lain, secara tidak langsung kita dapat merasai bebanan yang mereka tanggung. Ketika itu tidak terfikir langsung mengenai darjat dan pangkat. Apa yang perlu ialah cuba memberi mereka bantuan dan keselesaan," katanya.

Kesempatan menemui mangsa gempa bumi memberi kesedaran kepada Harlina betapa beruntungnya tinggal di Malaysia

Bersyukur

Selain dapat melakukan aktiviti kemanusiaan, penglibatannya dalam sukarelawan juga memberinya peluang melihat negara orang.

Ketika berada di Padang, Indonesia, Harlina memberitahu, dia berasa begitu insaf dan bersyukur kerana berada di Malaysia yang bebas daripada sebarang bencana dan pergolakan.

Dia bersama ahli Pantas yang lain pergi ke Kampung Tangah, Pariaman yang merupakan salah sebuah kampung yang terjejas teruk ekoran benca gempa bumi yang berlaku pada 30 September lalu.

Gempa menggongcang Padang pada 5.16 petang berpusat di kilometer 57, barat laut Pariaman, disusuli gempa bumi kedua 6.2 skala Richter pada 5.38 petang berpusat di kilometer 22 ke barat laut Pariaman.

Di sana mereka mendirikan khemah sementara kepada keluarga yang hilang tempat tinggal dan juga menggali 'sumur bor' iaitu telaga pam air untuk sumber air bersih.

Walaupun terdapat 'persengketaan' yang sebelum ini diuar-uarkan oleh sesetengah media, Haslina memberitahu, dia tidak melihat keadaan seperti itu sepanjang berada di sana.

Kedatangan sukarelawan dari Malaysia disambut dengan penuh mesra dan ada juga yang menitis air mata ketika menerima bantuan.

Harlina mengajak belia di luar sana agar menceburi bidang sukarelawan. Daripada melakukan aktiviti tidak berfaedah, boleh beramal dengan bantuan yang diberikan.

Kepada mereka yang berminat boleh menghubungi Harlina di talian 0193890858 atau Yoges di 0122010502.

Sumber: Kosmo, 5 Jan 2010.

Monday, December 14, 2009

Belajar tentang ikhlas...

Mari ku ajarkan mu tentang ikhlas," kata seorang guru kepada muridnya.

"Nanti saya ambilkan buku dan pena untuk menulisnya."

"Tak payah, bawa sahaja karung guni."

"Karung guni?" soal anak muridnya, seperti tidak percaya.

"Mari kita ke pasar!"

Dalam perjalanan ke pasar mereka berdua melalui jalan yang berbatu-batu.

"Kutip batu-batu yang besar dan masukkan ke dalam guni yang kau bawa itu," kata guru itu memberi arahan.

Tanpa soal, anak muridnya memasukkan batu-batu besar yang mereka temui sepanjang jalan.

"Cukup?"

"Belum, isi sampai penuh karung guni itu. Lebih banyak lebih baik."

Sampai di pasar, mereka berdua tidak membeli apa-apa pun. Gurunya hanya berlegar-legar, melihat-lihat dan kemudiannya mula beredar ke luar.

"Tok guru, kita tidak beli apa-apa kah?"

"Tidak. Bukankah karung guni mu telah penuh?"

"Ya, ya... " kata murid itu sambil memikul guni yang berat itu kelelahan.

"Banyak beli barang," tegur seorang kenalan apabila melihat anak murid itu memikul guni yang berisi penuh dengan batu-batu.

"Wah, tentu mereka berdua ini orang kaya. Banyak sungguh barang yang mereka beli," bisik orang lalu-lalang apabila melihat guru dan anak murid tersebut.

"Agaknya, mereka hendak buat kenduri dengan barang-barang yang banyak itu," kata orang yang lain.

Sampai sahaja di tempat tinggal mereka, murid tadi meletakkan guni yang berisi batu-batu tadi.

"Oh, letih sungguh... apa yang kita nak buat dengan batu-batu ni Tok?"

"Tak buat apa-apa."

"Eh, kalau begitu letih sahajalah saya," balas anak murid.

"Letih memang letih, tapi kamu dah belajar tentang ikhlas... "

"Bagaimana?" tanya anak murid itu kehairanan.

"Kamu dah belajar apa akibatnya tidak ikhlas dalam beramal."

"Dengan memikul batu-batu ini?"

"Ya. Batu-batu itu umpama amalan yang riyak. Tidak ikhlas. Orang memujinya seperti orang-orang di pasar tadi memuji banyaknya barang yang kamu beli. Tapi, kamu sendiri tahu itu bukan barang makanan atau keperluan tetapi hanya batu-batu... "

"Amal yang tidak ikhlas umpama batu-batu ini?"

"Ya, hanya beratnya sahaja yang terpaksa ditanggung. Dipuji orang, tetapi tidak ada nilainya di sisi Allah. Yang kamu dapat, hanya penat... "

"Ya, sekarang saya sudah faham apa akibat jika beramal tetapi tidak ikhlas!" ujar murid itu.

Sekarang dia sudah faham apa akibatnya RIYAK dalam beramal.

Pengajaran:
Ramai manusia tertipu dalam beramal kerana mengharapkan pujian orang. Padahal kata pujian daripada orang-orang itu tidak akan memberi manfaat pun kepadanya pada hari akhirat. Malah, mengharap pujian daripada manusia hanya akan menyebabkan diri terseksa kerana terpaksa hidup dalam keadaan yang bermuka-muka. Rugi benar orang yang tidak ikhlas, terseksa di dunia, terseksa di akhirat.

Wednesday, December 9, 2009

Fahami matlamat dan tujuan hidup

Renungan buat diriku dan diri2 yang ingin berjaya...

Mendidik anak tujuan dan matlamat hidup yang jelas

Anak-anak yang tidak ada tujuan dan matlamat hidup akan mudah terpesong dari jalan kebenaran dan mudah juga hanyut dalam arus duniawi.

Matlamat hidup tak lain dan tak bukan ingin mendapat keredhaan Allah S.W.T berpedomankan al-Quran dan sunnah Rasulullah s.a.w.

Tujuan hidup atau tujuan kenapa Allah mencipta manusia perlu ditanamkan dalam jiwa dan minda anak-anak iaitu untuk berperanan sebagai hamba dan khalifah Allah di atas dunia.

Thursday, October 22, 2009

1Ummah!

InsyaAllah... satu hari nanti impian akan tercapai. Perjalanan yang jauh menuju satu destinasi bermula dengan langkah pertama!

Penduduk Islam Sedunia 1.57 bilion

WASHINGTON - Bilangan penduduk Islam dunia kini mencecah 1.57 bilion atau seorang daripada empat penduduk dunia menganut agama Islam, demikian menurut laporan Pew Forum on Religion and Public Life yang dikeluarkan semalam.

Projek yang mengambil masa selama tiga tahun untuk disiapkan itu turut memberi data mengejutkan iaitu bilangan penganut agama Islam di Jerman lebih banyak berbanding di Lebanon dan China mempunyai ramai penganut Islam berbanding Syria.

Data lain yang mengejutkan ialah lebih ramai penduduk Islam di Rusia jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Islam di Jordan dan Libya.

Penduduk Islam di Habsyah hampir menyamai penduduk Islam di Afghanistan.

"Secara amnya, laporan ini menghapuskan pendapat menyatakan umat Islam itu ialah penduduk Arab dan Arab ialah Islam," kata penolong profesor Universiti Princeton, Amaney Jamal.

Pew yang merupakan cabang penyelidikan Universiti Princeton menyatakan, penganut Islam berada di belakang penganut Kristian yang dianggarkan 2.2 bilion pengikut.

Tugas sukar bagi menentukan penduduk umat Islam di 232 negara dan wilayah itu membabitkan penilaian sejumlah laporan banci penduduk, kajian demografi, tinjauan populasi dan bancian umum, kata laporan.

Laporan itu cuba untuk memecahkan penduduk Islam mengikut mazhab Sunah dan Syiah tetapi ia sukar dilaksanakan kerana hanya beberapa negara merekodkan pecahan tersebut, kata seorang penyelidik kanan, Brian Grim.

Laporan Pew mendapati sebanyak 13 peratus pengikut Islam berpegang kepada mazhab Syiah.

Sebanyak 80 peratus populasi Syiah tertumpu di Iran, Pakistan, India dan Iraq.

Hampir 60 peratus umat Islam berada di Asia, 20 peratus di Asia Barat dan Afrika Utara, 15 peratus tinggal di Afrika Sub-Sahara, 2.4 peratus di Eropah dan 0.3 peratus di Amerika Syarikat.

Sebanyak 317 juta umat Islam atau seperlima daripada populasi tinggal di negara-negara yang bukan negara majoriti Islam.

Hampir tiga perempat umat Islam tinggal sebagai minoriti di lima negara utama iaitu India (161 juta), Habsyah (28 juta), China (22 juta), Rusia (16 juta) dan Tanzania (13 juta). - AP

Sumber: Kosmo, 9 Okt 2009.

Monday, October 19, 2009

Sokong TV Islam!

Saya sangat menyokong usaha murni pihak JAKIM ini. Memang telah terbukti minda manusia sangat mudah terpengaruh dengan apa yang dilihatnya hari-hari terutamanya pengaruh dari TV! Kalau hari-hari asyik disogokkan dan diperlihatkan dengan perkara-perkara yang melanggar hukum syariat, maka begitulah juga bentuk pemikiran yang akan terhasil dalam minda manusia! Tahniah JAKIM! Tak sabar menunggu penyiarannya dilaksanakan di seluruh Malaysia.


Prof. Madya Dr. Zulkiple Abd. Ghani

MEGA: Malaysia bakal memiliki TV Islam melalui TV JAKIM. Apakah ciri-ciri yang perlu ada di dalamnya?

DR. ZULKIPLE: Pertamanya kita bersyukur kerana telah sekian lama suara mewujudkan TV Islam, akhirnya idea tersebut kini mula mendapat perhatian. Jangan lupa bahawa di Iran usaha ini telah dimulakan sejak tahun 1979.

Kita boleh belajar dari mereka di mana-mana yang perlu. Berkaitan dengan ciri-ciri, paling kurang kita kena tengok tiga perkara penting.

Pertama, dari sudut falsafah dan dasarnya. Yang jelas ia akan menjadi panduan ke mana hala tuju TV Islam ini. Islam mengutamakan fikiran dan ilmu. Kita tidak boleh simplistik, dengan mengatakan biar penerbit menentukan. Mereka tahu apa yang perlu dibuat.

Jika kita banding ada TV dikendali secara free-enterprise, ada berbentuk public broadcasting malah ada berbentuk autoritarian. Kita kena tentukan dasar ini secara jelas.

Di peringkat permulaan ini, falsafah kita ialah TV Islam mesti menggambarkan Islam dalam erti kata sebenarnya. Dulu kita sebut Islam syumul atau Islam sebagai cara hidup.

Justeru sebagai alat atau seperti yang selalu disebut the medium is the message, TV Islam adalah gambaran tentang Islam itu sendiri. Islam yang mengutamakan kesejahteraan, keamanan dan kebahagiaan hidup.

Ia membawa kita kepada perkara atau ciri yang kedua, iaitu tentang pengisian program. Programnya tentulah juga bersifat komprehensif seperti dikehendaki oleh Islam.

Islam mengajar tentang prinsip berekonomi, beribadat, berpolitik, bersosial, berhibur dan semua aspek dalam kehidupan. TV Islam tentulah tidak setakat program membaca al-Quran atau memahami hadis-hadis walaupun ini antara yang terpenting.

Program boleh datang dalam pelbagai format dan tidak terhad kepada talk show atau forum sahaja. Malah kini kreativiti dan inovasi adalah satu tuntutan dalam persaingan merebut minat khalayak.

Juga kita kena lihat dari sudut model, yang ketiganya. Kita tahu kos mengendalikan sebuah stesen TV bukan murah. Ia memerlukan jutaan ringgit, juga sumber tenaga mahirnya.

Jadi kita kena fleksibel dalam perkara-perkara tertentu, misalnya tentang iklan dan kreativiti. Kita kena tentukan beberapa kriteria yang memenuhi kehendak Islam, di mana kita tidak berkompromi dalam perkara pokok tapi kita membuka ruang seluas-luasnya untuk kreativiti.

TV Jakim itu nanti pastinya menimbulkan skeptism. Adakah bentuk hiburannya nasyid dan qasidah sahaja?

DR. ZULKIPLE: Kita tahu sebab selama ini bila disebut rancangan 'agama' TV kita sudah dibentuk sejak sekian lama. Misalnya kita mula TV dengan bacaan al-Quran dan tutup dengan doa.

Juga kita macam sudah sebati dengan format forum dan ceramah. Satu yang mesti kita sedar ialah bagaimana kita perlu branding baru. Kita bukan lagi menumpang waktu siaran tapi mengendalikan sebuah stesen sendiri.

Sudah tentu TV Islam ini akan mempunyai kategori rancangannya sendiri. Kita akan ada berita, rancangan bersifat informasi, hiburan, program realiti, drama, dokumentari malah program juga perlu disusun untuk setiap lapisan umur dan minat khalayak. Apa pun kita perlu bermula dan menambah baik dari semasa ke semasa.

Ada juga yang beranggapan penelitian dari segi etika dan ketepatan berita mengikut Islam di mana tidak membenarkan ruangan seperti gosip dan sensasi akan menyebabkan TV kehilangan penonton?

DR. ZULKIPLE: Sebenarnya ruang berkarya untuk TV Islam cukup luas. Kita tidak boleh melihat kepada beberapa praktik negatif seperti gosip liar, fitnah dan adu domba.

Kita kena bina sebuah model yang mengutamakan kesejahteraan, perpaduan dan saling hidup bersama dengan keadaan rukun damai. Fitrah manusia cenderung kepada perkara-perkara yang baik.

Kita tahu persaingan merebut minat khalayak adalah terlalu sengit kini dengan puluhan rangkaian yang ada. Setiap rangkaian ada peminat tersendiri. TV Islam memang perlu bersaing dengan satu standard yang tinggi.

Kita cukup positif bahawa khalayak yang mengutamakan tamadun, ilmu, etika perlu dibentuk dan menjadi kelompok terbesar dalam negara kita.

Apabila dilancarkan kelak, ini membuka lembaran baru bagi Malaysia dalam mempelopori TV Islam. Bagaimana usaha ini dapat diperhebatkan untuk manfaat negara-negara di bawah Persidangan Negara-negara Islam (OIC)?

DR. ZULKIPLE: Seperti yang saya sebutkan, Iran sebagai sebuah negara OIC telah memulakan usaha ini sejak sekian lama.

Mereka melalui fasa jatuh bangun yang kita boleh pelajari dan laksanakan apa yang sesuai di negara kita. Malah banyak pengalaman itu ditulis oleh para sarjana mereka.

Misalnya mereka berjaya menerbitkan filem-filem yang memenangi anugerah antarabangsa, tapi masih dalam lingkungan syariat. Kita memang boleh menggembleng sumber-sumber yang pelbagai di negara OIC. Kita perlu belajar bagaimana mewujudkan sebuah production house seperti Hollywood yang mampu membekalkan penerbitan-penerbitan berkualiti dalam acuan kita sendiri.

Seperkara yang menghantui TV Islam adalah tentang pengiklanan. Mampukah ia bertahan dan apakah akan ada mereka yang mahu mengiklan di TV itu nanti?

DR. ZULKIPLE: Sebenarnya pengendalian sebuah stesen TV mempunyai strukturnya tersendiri. Kita perlu fahami bagaimana untuk bersaing secara sihat dan boleh bertahan (survive).

Iklan adalah sebahagian dari sumber pendapatan bagi stesen TV dan ia perlu di sokong oleh entiti perniagaan kita. Ia adalah berdasarkan konsep menang-menang, bukan setakat untuk memberi sahaja tanpa 'pulangan'.

Pun begitu, saya percaya di peringkat permulaan ini, strategi-strategi tertentu telah difikirkan untuk memastikan TV Islam di bawah kendalian Jakim boleh muncul sebagai saluran alternatif.

Malah dengan pengendalian yang bijak, disokong pula oleh khalayak yang matang, ia akan menjadi titik sejarah baru bagi negara kita.

Jangan lupa kita juga perlu belajar bagaimana rangkaian lain seperti al-Jazeera mampu ke peringkat antarabangsa.

Sumber: Utusan

Friday, October 16, 2009

Mendidik anak taat syariat

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Februari 4, 2007

Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?

Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.

Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).

Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.

Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”

Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah. []

Rujukan: Baiti Jannati

Friday, October 2, 2009

Ada apa dengan matlamat?

ADA APA DENGAN MATLAMAT?

MUSLIM PERLU JELAS HALA TUJU HIDUP
Oleh Wan Esma Wan Ahmad

MENGETAHUI matlamat sesuatu perkara penting dalam melaksanakan tugas, kerja dan ibadat setiap hari. Seorang pelajar yang faham matlamat belajar akan belajar bersungguh-sungguh, manakala seorang pekerja yang faham matlamat kerja, akan berusaha dalam kerjayanya.

Pendek kata, orang yang jelas matlamatnya akan berusaha untuk mencapainya, berasa mudah untuk mencapainya kerana sudah jelas matlamatnya.

Terfikirkah kita sebelum ini apakah matlamat kehidupan manusia itu dijadikan?

Menjadi seorang lelaki mahupun perempuan, kecil, besar, tua, muda, miskin, kaya, remaja, dewasa dan sebagainya. Apakah matlamat hidup mereka? Manusia tidak dijadikan sia-sia, ada matlamatnya walau di mana sekalipun kedudukan, zaman dan masa.
Allah s.w.t berfirman yang bermaksud: "Dan (ingatlah) tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya secara main-main." (Surah al-Anbiya', ayat 16)
Manusia yang diciptakan Allah juga jelas matlamatnya seperti firman-Nya yang bermaksud: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi? Mereka bertanya (mengenai hikmah ketetapan Tuhan itu dengan berkata) "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendaklah menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dan memuji-Mu dan mensucikan-Mu. Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya."(Surah al-Baqarah, ayat 30)

Manusia wajib taat dan patuh kepada Allah, Rasulullah SAW dengan mengikut ajaran Islam yang terkandung di dalam al-Quran dan sunnah. Mereka hendaklah berusaha meneruskan kehidupan mengikut acuan al-Quran dan sunnah.

Muslim adalah orang yang jelas hala tujunya menjadi hamba Allah yang berjaya mengikut peraturan sebagai khalifah di muka bumi walaupun diuji dengan pelbagai ujian dan halangan kadang-kadang di luar dugaan.

Ini dijelaskan Allah swt dalam firman yang bermaksud...
"Dihiaskan (dijadikan indah) kepada manusia kesukaan kepada benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak, harta benda daripada emas dan perak, kuda peliharaan, dan binatang ternak serta kebun tanaman. Semua itu ialah kesenangan hidup di dunia dan ingatlah pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaiknya (syurga)." (Surah ali-Imran, ayat 14)


Memahami tuntutan qada' dan qadar serta lumrah kehidupan sama ada susah dan senang atau penyakit adalah ujian daripada Tuhan dalam mencapai kejayaan hidup sebagai seorang Muslim.

Realitinya matlamat itu bermula daripada rumah. Ibu bapa mahupun penjaga yang mendidik anak sebenarnya orang yang menginginkan masa depan anak menjadi orang berjaya di dunia dan di akhirat kelak. Oleh demikian, mereka sepatutnya mempunyai matlamat jelas dalam mendidik generasi mereka.

Lukman al-Hakim berpesan kepada anaknya dengan pesanan yang disebutkan dalam al-Quran bermaksud...
"Wahai anakku, dirikanlah sembahyang dan suruhlah berbuat kebaikan serta melarang daripada melakukan perbuatan mungkar, dan bersabarlah atas segala bala bencana yang menimpamu. Sesungguhnya, demikian itu adalah daripada perkara yang dikehendaki diambil berat melakukannya. Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia, dan jaganlah engkau berjalan di muka bumi dengan berlagak sombong takbur lagi membangga diri. Dan sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan, juga rendahkanlah suaramu (semasa berkata-kata), sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai." (Surah Lukman, ayat 17 hingga 19)

Marilah sentiasa meningkatkan keimanan kita dengan memahami matlamat sebenar kehidupan. Agama bukan sekadar ikutan (taklid) atau hanya untuk digunakan bagi sesuatu perkara seperti semasa perkahwinan, kematian dan sebagainya.

Islam meliputi seluruh kehidupan manusia. Sebagai contohnya sambutan Maulidur Rasul yang disambut setiap tahun bukan saja sambutan yang perlu dibesarkan, tetapi sunnah Nabi SAW itu yang diutamakan.

Muhasabah diri dari masa ke semasa, sejauh mana kita yang dibekalkan dengan al-Quran dan as-sunnah benar-benar mengamalkan Islam sebagai cara hidup. Usah menjadikan watak hiburan dalam mengejar dunia yang sementara ini sedangkan ia tidak diajarkan sunnah Rasulullah SAW.

Telitikan ajaran Islam melalui al-Quran dan hadis kerana segala keperluan kehidupan ada di dalamnya. Manfaatkan kemudahan zaman sains dan teknologi untuk mencapai matlamat hidup Muslim yang sebenarnya.

Usahlah membuang masa dengan perkara tidak berfaedah. Manfaatkan masa dengan sebaiknya selari maksud hadis yang mengajak merebut lima perkara sebelum ia berlalu pergi iaitu, masa muda sebelum datangnya tua, masa sihat sebelum sakit, masa kaya sebelum miskin, masa lapang sebelum sibuk dan masa hidup sebelum sakit.

Penulis ialah Panel Penulis Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

Sumber: nurjeehan.hadithuna.com

“Rebutlah 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara, masa muda sebelum tua, masa sihat sebelum sakit, masa kaya sebelum miskin, masa lapang sebelum sibuk, masa hidup sebelum mati”. (HR Ahmad)

Masa muda – masa yang berpotensi, mempunyai tenaga yang kuat dan sanggup menghadapi cabaran untuk membina kecemerlangan
Masa sihat-masa yang mudah untuk digunakan bagi melakukan kebaikan dan ibadat
Masa kaya – peluang yang cukup untuk melakukan ibadat atau kebaikan yang memerlukan kebendaan seperti ibadah haji, zakat, wakaf, derma dan sedekah.
Masa lapang – masa yang boleh digunakan untuk mempertingkatkan diri sama ada untuk ibadah, kerjaya dan menambahkan ilmu.
Masa hidup – digunakan untuk mentaati Allah, perkara-perkara yang manfaat, menyampaikan ilmu yang bermanfaat dan memberikan sedekah jariah untuk bekalan selepas mati.
( QS al-Asr : 1-3 )
( QS al-Qasas : 77 )

Sunday, September 27, 2009

Kita berbeza kepandaian

“Allah tidak menciptakan manusia pandai dan bodoh. Tetapi Allah menciptakan manusia berbeza kepandaian”

Mesyuarat tempoh hari, saya ingat lagi butir perkataan itu. Saya maklum bicara itu bukan omongan kosong, memang ada benarnya.

“Tapi manusia rajin dan malas ada…,” hati berdetik membalas.

Kalau manusia bodoh dan pandai, Tuhan ternyata tidak adil. Tetapi yang ada ialah manusia yang malas dan rajin. Yang nyatanya malas dan rajin itu boleh diubah dan diusahakan oleh tuan punya badan.

Tidak akan berubah nasib mereka itu melainkan mereka ‘merajinkan’ diri mengusahakannya pula.

Pakar Psikologi kebelakangan ini setuju bahawa tidak ada orang yang boleh dipanggil genius secara total.

Genius pada bidang Muzik tidak boleh dibandingkan dengan genius pada bidang Matematik.

Genius pada bidang Matematik tidak boleh secara total digelar genius, dan yang selainnya secara langsung digelar tidak genius.

Perbandingan yang ‘zalim’.

Zarina pandai memasak. Zulaikha tidak pandai memasak.

Tidak. Bukan begitu.

Zarina pandai memasak. Zulaikha pandai menjahit!


POTENSI DIRI

Setiap insan itu sudah diciptakan dengan kebolehan yang berbeza-beza. Semua itu ketetapan yang Esa. Tidak hairan timbul rasa iri antara sesama, lantaran kurniaan Yang Maha Kuasa itu.

Iri hati itu tidak ada gunanya, yang paling berfaedah adalah mencari potensi diri untuk ditundukkan ke jalan Tuhan.

Melihat kelebihan insan lain jangan menjadikan anda ‘buta’ dengan kurniaan Allah kepada anda. Rupa-rupanya selama ini anda lalai memuncungkan bibir pada potensi orang lain, hinggakan anda terlepas pandang pada ‘emas’ di genggaman anda.

Kenali potensi diri, pilih lapangan dan ikhlaslah berbakti. Di situlah jelas nyata keadilan Yang Esa, pada ikhlas atau tidak hambaNya atas tiap nikmat yang dikurnia. Bukannya pada kecil besar atau sedikit banyaknya usaha.

Jangan kecewa dan berputus asa pada kekurangan diri, itulah rahmat Ilahi yang mesti diperhati. Bahawa kita penuh dengan kecacatan. Kecacatan yang membahagiakan. Kecacatan yang mengingatkan kita bahawa kita sekadar hamba. Kecacatan yang menjadi cermin bahawa hanya Allah sahaja yang sempurna.

Kesempurnaan itu milik Allah semata. Janganlah berteman kalau ingin mencari yang sempurna.

Apabila kita ingin berteman,
Janganlah kerana kelebihannya,
Kerana mungkin dengan satu kelemahan,
Kita mungkin akan menjauhinya....

Andai kita ingin berteman,
Janganlah kerana kebaikannya,
Kerana mungkin dengan satu keburukan,
Kita akan membencinya....

Andai kita inginkan sahabat yang satu,
Janganlah kerana ilmunya,
Kerana apabila dia buntu,
Kita mungkin akan memfitnahnya....

Andai kita inginkan seorang teman,
Janganlah kerana sifat cerianya,
Kerana andai dia tidak pandai menceriakan,
Kita mungkin akan menyalahkannya....

Andai kita ingin bersahabat,
Terimalah dia seadanya,
Kerana dia seorang sahabat,
Yang hanya manusia biasa....

Jangan diharapkan sempurna,
Kerana kita juga tidak sempurna........

Maha Suci Allah Tuhan kami yang sempurna. Yang Mengampunkan kami andai terlupa. Yang menerima kami kembali padahal kami penuh cacat cela. Yang Mengasihani kami padahal kami sering berbuat dosa.

Terimalah diri anda seadanya.

Yakinlah bahawa anda istimewa dengan kecacatan anda itu, yang mengingatkan anda betapa sempurnanya pula pencipta.

Maha Suci Allah…

Sumber: KhairaUmmah

Tuesday, September 15, 2009

Through a rapist's eyes (no joke)

Forwarded by friends.

READ &SHARE

This is important information for females of ALL ages.

When this was sent to me, I was told to forward it to my lady friends. I forwarded it to most everyone in my address book. My men friends have female friends and this information is too important to miss someone. Please pass it along.

A group of rapists and date rapists in prison were interviewed on what they look for in a potential victim and here are some interesting facts:

1)The first thing men look for in a potential victim is hairstyle.They are most likely to go after a woman with a ponytail, bun, braid or other hairstyle that can easily be grabbed.They are also likely to go after a woman with long hair . Women with short hair are not common targets.

2)The second thing men look for is clothing . They will look for women who's clothing is easy to remove quickly. Many of them carry scissors around specifically to cut clothing.

3)They also look for women on their cell phone, searching through their purse or doing other activities while walking because they are off guard and can be easily overpowered.

4)Men are most likely to attack & rape in the early morning, between 5:00 a.m. and 8:30 a.m.

5)The number one place women are abducted from/attacked is grocery store parking lots. Number two is office parking lots/garages. Number three is public restrooms. <<----LADIES, MAKE SURE U ARE NOT GOING ANYWHERE ALONE

6)The thing about these men is that they are looking to grab a woman and quickly move her to another location where they don't have to worry about getting caught.

7)Only 2% said they carried weapons because rape carries a 3-5 year sentence but rape with a weapon is 15-20 years.

8)If you put up any kind of a fight at all, they get discouraged because it only takes a minute or two for them to realize that going after you isn't worth it because it will be time-consuming.

9)These men said they would not pick on women who have umbrellas, or other similar objects that can be used from a distance, in their hands.

Keys are not a deterrent because you have to get really close to the attacker to use them as a weapon. So, the idea is to convince these guys you're not worth it..

10) Several defense mechanisms he taught us are: If someone is following behind you on a street or in a garage or with you in an elevator or stairwell,look them in the face and ask them a question, like what time is it, or make general small talk: "I can't believe it is so cold out here", "we're in for a bad winter." Now you've seen their face and could identify them in a line-up; you lose appeal as a target.

11)If someone is coming toward you, hold out your hands in front of you and yell STOP or STAY BACK! Most of the rapists this man talked to said they'd leave a woman alone if she yelled or showed that she would not be afraid to fight back. Again, they are looking for an EASY target.

12)If you carry pepper spray (this instructor was a huge advocate of it and carries it with him wherever he goes) yell "I HAVE PEPPER SPRAY" and holding it out will be a deterrent.

13)If someone grabs you, you can't beat them with strength but you can by outsmarting them. If you are grabbed around the waist from behind, pinch the attacker either under the arm (between the elbow and armpit)OR in the upper inner thigh VERY VERY HARD. One woman in a class this guy taught told him she used the underarm pinch on a guy who was trying to date rape her and was so upset she broke through the skin and tore out muscle strands -the guy needed stitches. Try pinching yourself in those places as hard as you can stand it; it hurts.

14)After the initial hit, always GO for the GROIN. I know from a particularly unfortunate experience that if you slap a guy's parts it is extremely painful. You might think that you'll anger the guy and make him want to hurt you more, but the thing these rapists told our instructor is that they want a woman who will not cause a lot of trouble. Start causing trouble and he's out of there.

15)When the guy puts his hands up to you, grab his first two fingers and bend them back as far as possible with as much pressure pushing down on them as possible! The instructor did it to me without using much pressure, and I ended up on my knees and both knuckles cracked audibly.

16) Of course the things we always hear still apply. Always be aware of your surroundings, take someone with you if you can and if you see any odd behavior,don' t dismiss it, go with your instincts!!! You may feel a little silly at the time, but you'd feel much worse if the guy really was trouble.

1. Tip from Tae Kw on Do: The elbow is the strongest point on your body. If you are close enough to use it, do!

2.Learned this from a tourist guide in New Orleans. If a robber asks for your wallet and/or purse, DO NOT HAND IT TO HIM. Toss it away from you... chances are that he is more interested in your wallet and/or purse than you, and he will go for the wallet/purse. RUN LIKE MAD IN THE OTHER DIRECTION!

3.If you are ever thrown into the trunk of a car, kick out the back tail lights and stick your arm out the hole and start waving like crazy. The driver won't see you, but everybody else will.. This has saved lives.

4.Women have a tendency to get into their cars after shopping, eating, working, etc., and just sit (doing their checkbook, or making a list, etc. DON'T DO THIS!)The predator will be watching you, and this is the perfect opportunity for him to get in on the passenger side, put a gun to your head, and tell you where to go. AS SOON AS YOU GET INTO YOUR CAR, LOCK THE DOORS AND LEAVE.

a. If someone is in the car with a gun to your head DO NOT DRIVE OFF, repeat: DO NOT DRIVE OFF! Instead gun the engine and speed into anything, wrecking the car. Your Air Bag will save you. If the person is in the back seat they will get the worst of it. As soon as the car crashes bail out and run. It is better than having them find your body in a remote location.

5.A few notes about getting into your car in a parking lot, or parking garage:



A.)Be aware: look around you, look into your car, at the passenger side floor, and in the back seat.

B.)If you are parked next to a big van, enter your car from the passenger door. Most serial killers attack their victims by pulling them into their vans while the women are attempting to get into their cars.

C.)Look at the car parked on the driver's side of your vehicle, and the passenger side. If a male is sitting alone in the seat nearest your car, you may want to walk back into the mall, or work, and get a guard/policeman to walk you back out.

IT IS ALWAYS BETTER TO BE SAFE THAN SORRY. (And better paranoid than dead.)

6.ALWAYS take the elevator instead of the stairs. (Stairwells are horrible places to be alone and the perfect crime spot. This is especially true at NIGHT!)

7.If the predator has a gun and you are not under his control, ALWAYS RUN! The predator will only hit you (a running target) 4 in 100 times; And even then, it most likely WILL NOT be a vital organ.. RUN, preferably in a zig -zag pattern!

8.As women, we are always trying to be sympathetic: STOP. It may get you raped, or killed. Ted Bundy, the serial killer, was a good-looking, well educated man, who ALWAYS played on the sympathies of unsuspecting women. He walked with a cane, or a limp, and often asked "for help" into his vehicle or with his vehicle, which is when he abducted his next victim ..

***** Here it is ******

9.Another Safety Point: Someone just told me that her friend heard a crying baby on her porch the night before last, and she called the police because it was late and she thought it was weird. The police told her "Whatever you do, DO NOT open the door."

The lady then said that it sounded like the baby had crawled near a window, and she was worried that it would crawl to the street and get run over. The policeman said, "We already have a unit on the way, whatever you do, DO NOT open the door." He told her that they think a serial killer has a baby's cry recorded and uses it to coax women out of their homes thinking that someone dropped off a baby. He said they have not verified it, but have had several calls by women saying that they hear baby's cries outside their doors when they're home alone at night.

Please pass this on and DO NOT open the door for a crying baby ----This e-mail should probably be taken seriously because the Crying Baby theory was mentioned on America's Most Wanted when they profiled the serial killer in Louisiana.

I'd like you to forward this to all the women you know. It may save a life. A candle is not dimmed by lighting another candle I was going to send this to the ladies only, but guys, if you love your mothers, wives, sisters, daughters, etc., you may want to pass it onto them, as well.

Wednesday, September 2, 2009

Adam & Hawa

Ah, cinta itu boleh tumbuh, subur dan berbuah. Cinta juga boleh lumpuh, terkubur dan musnah. Ramai pasangan yang berkahwin, tetapi tidak sampai setahun, cintanya patah. Ada juga yang berkahwin, berpura-pura bahagia. Akhirnya kecundang, berpisah di usia senja. Namun lebih ramai yang terus berkahwin, namun rumah tangganya bagai pusara… tidak ada cinta, jauh sekali bahagia.

Jika terdetik sahaja di dalam hati, “Aku tidak berpisah dengannya (pasangan kita) hanya kerana anak-anak…” itu petanda bahaya. Selalu kita diingatkan “hadiah” termahal untuk anak-anak ialah mencintai ayah atau ibunya (isteri atau suami kita). Jadi, jangan sekali-kali kematian cinta. Bina dan binalah lagi walaupun bagaimana perit dan deritanya.

Satu kebaikan perlu dimulakan berkali-kali. Jangan terperangkap dalam ilusi kesempurnaan. Jadi, binalah cinta berkali-kali. Walaupun sukar sungguh mencari ”kerana-kerana”nya lagi, tapi jangan putus asa. Cari dan binalah kerana yang baru. Jangan jemu. Berilah dan teruslah memberi. Insya-Allah, akan terpinggir juga akhirnya rasa benci, jemu dan letih oleh karenah, kekurangan atau “keburukan” pasangan kita.

Ingat selalu, terlalu banyak “sebab” untuk menyintai, berbanding sebab untuk membenci!

Jangan cepat berubah hati. Bila “kerana-kerana” yang lain sudah hilang dan terasa tiada sebab untuknya mencintai lagi, ketahuilah itulah permulaan CINTA sejati. Itulah cinta tanpa syarat yang terlalu mahal harganya. Kata hukama, “di kala manusia hilang segala-galanya, maka ketika itulah dia menemui siapa dirinya yang sebenar.”

Cintailah pasangan kita kerana Allah. Ikhlaslah dalam bercinta. Inilah yang akan mengekalkan rasa cinta selepas perkahwinan. Jangan terikat dengan cinta yang murah – yakni cinta berbentuk “maddiah” (fizikal dan material). Jangan diteladani syaitan yang terlalu materailistik, yang merasakan dirinya yang tercipta daripada api lebih baik dari Adam yang tercipta dari tanah. Syaitan terlalu material. Sebaliknya, mulianya Adam kerana ilmu dan ketaatannya kepada Allah. Cinta kita jangan berpusatkan materail dan fizikal!

Saya pernah terdengar kata yang pesimis, perkahwinan itu adalah pusara cinta. Semakin bertambah usia perkahwinan, kata mereka, semakin tipis rasa cinta. Tidak ada lagi kemanisan, kehangatan dan keharmonian seperti yang pernah dirasakan sebelum bernikah dahulu. Segala-galanya menjadi semakin suram dan bungkam… seakan-akan pusara.

Hakikatnya, dakwaan di atas adalah satu bentuk tipuan syaitan untuk menghindarkan manusia daripada perkahwinan. Agar dengan itu, kebanyakan manusia tertipu untuk beranggapan bahawa kemanisan cinta hanya dapat dinikmati dalam lembah dosa pergaulan bebas dan perzinaan.

Namun kita lebih tertarik dengan kata yang optimis – perkahwinan itu adalah kebun cinta. Semakin lama berkahwin, semakin menebal dan mendalam rasa cinta. Akan ada kemanisan, keharmonian dan ketenangan sepanjang kembara mengharungi kehidupan berumah tangga.

Dalam alam rumah tangga, pasti ada kesusahannya tetapi ada juga kesenangannya. Ada kepahitan, namun kemanisan yang seiringannya juga lebih banyak. Susah-susah pun dijanjikan pahala. Inilah janji Islam, yang menegaskan ada “syurga” di dunia. Di mana lagi? Kalau bukan di dalam rumah tangga kita – Baiti Jannati!

Apa yang harus dilakukan untuk menjadikan perkahwinan itu sebagai kebun cinta bukan pusara? Salah satu caranya ialah dengan menjaga perasaan, sama ada perasaan kita sendiri dan perasan pasangan kita. Cinta itu berkait rapat dengan perasaan. Sering disebut “perasaan” cinta bukan “fikiran” cinta. Maka menjaga perasaan samalah dengan menjaga cinta.

Perasaan adalah bayangan fikiran. Jika fikiran kita positif, perasaan kita akan gembira. Sebaliknya, apabila perasaan kita sedih, marah atau kecewa, fikiran kita juga negatif. Justeru, dengan menjaga perasaan, bererti kita juga menjaga fikiran kita. Perasaan dan fikiran itu saling berkaitan. Perasaan itu umpama nyala api manakala fikiran itu adalah unggunnya.

Dalam sebuah rumah tangga, perasaan suami isteri mesti selalu gembira dan fikiran mesti sentiasa positif. Mengapa ini penting? Jawabnya, fikiran yang positif akan melahirkan tindakan, tingkah laku dan respons yang positif juga. Rumah tangga adalah wadah berlakunya pelbagai keadaan, insiden dan kejadian. Yang pahit dan manis akan datang bersilih ganti. Rumah tangga akan sentiasa teruji.

Bagaimana suami dan isteri bertindak (memberi respons) terhadap rangsangan-rangsangan ini? Ini semua bergantung pada fikiran dan perasaan mereka ketika berdepan dengan rangsangan-rangsangan itu. Satu perkara atau situasi yang sama tetapi dihadapi oleh dua orang yang berbeza akan memberi impak yang berbeza bergantung pada fikiran mereka.

Bila dicaci misalnya, bagi mereka yang berfikiran negatif akan menganggap itu satu penghinaan. Sebaliknya, bagi yang berfikiran positif menganggap itu sebagai cabaran untuk bertindak dengan lebih baik. Kesannya, yang berfikiran negatif bertindak secara destruktif (meruntuh) – menghina balik, berdendam atau susah hati. Manakala yang berfikiran positif akan bertindak konstruktif (membina) – sabar, muhasabah diri dan melupakan. Tindakan-tindakan yang konstruktif akan menyuburkan cinta. Manakala tindakan destruktif akan “menguburkan” cinta.

Jika cinta itu umpama sebuah kebun… maka adalah lebih mudah untuk memiliki sebuah kebun berbanding menjaga kebun itu agar sentiasa subur dan tidak dimusnahkan oleh haiwan perosak. Justeru, amat penting pasangan suami isteri menjaga perasaan masing-masing.

Jagalah perasaan sendiri agar ceria selalu. Insya-Allah keceriaan itu akan memudahkan kita menjaga perasaan pasangan kita. Orang yang gembira selalunya dapat menggembirakan orang lain. Hindarilah rasa benci, marah, kecewa, sayu dan putus asa. Tetapi jika kekadang rasa-rasa negatif itu timbul jua, bermujahadahlah untuk memeranginya. Jangan sekali-kali dibiarkan menetap lama-lama di hati kita. Ia umpama serangga perosak yang boleh memusnahkan kebun cinta kita.

Inilah rahsia kesuburan “kebun cinta’. Bila kebun cinta kedua suami-isteri telah subur, insya-Allah seluruh isi rumah (anak-anak, pembantu rumah dan siapa sahaja yang tinggal sebumbung dengan mereka) akan turut merasa teduh oleh rimbun daun-daunnya dan akan dapat pula merasakan keenakan buah-buahnya. Orang yang penuh dengan rasa cinta umpama bunga yang harum. Ia sentiasa menyebarkan “keharumannya”.

Apakah yang harus dilakukan agar perasaan selalu ceria atau gembira? Mungkin untuk merasa gembira lebih mudah jika memang ada sesuatu, seseorang atau keadaan yang boleh menggembirakan. Kalau ada suatu insiden atau kejadian yang melucukan… kita tertawa, gembira. Jika ada orang memberikan hadiah, kita gembira.

Namun bagaimana jika semua itu tidak ada? Maksudnya, tidak ada seseorang, keadaan, perkara atau benda pun yang boleh menggembirakan kita? Pendek kata, sumber kegembiraan langsung tidak ada. Bagaimana? Jawabnya, jadilah sumber kegembiraan itu sendiri! Maksudnya, jadikanlah diri kita sebab untuk orang lain gembira.

Bagaimanakah caranya? Carilah orang lain dan gembirakan dia. Siapakah dia itu?

Siapa lagi kalau bukan pasangan kita. Sentiasalah berfikir, berusaha dan melakukan apa sahaja yang boleh menggembirakan pasangan kita. Insya-Allah, kegembiraan yang kita berikan kepadanya akan kembali kepada kita semula. Pepatah Cina ada mengungkapkan, tangan yang menghulur bunga mawar pasti akan berbau harum. Bijak pandai juga berkata“what goes around, comes around.”

Ya, hulurkanlah “bunga mawar” kepada pasangan kita, setiap hari, setiap masa. Insya-Allah, sebelum pasangan kita mencium keharumannya, tangan kita yang menghulurkannya akan berbau harum terlebih dahulu. Bunga mawar itu simbolik kepada kebaikan. Maksud menghulurkan bunga mawar itu ialah buatlah kebaikan kepada pasangan kita – tidak kira sama ada kecil atau besar. Kebaikan itu umpama baja kepada kebun cinta kita.

Teringat apa yang dikatakan oleh A’id Al Qarni dalam bukunya “La Tahzan”, “orang yang pertama merasakan nikmat kebaikan ialah orang yang melakukannya!” Ertinya, sesiapa yang berusaha menjadi sumber kegembiraan (dengan terlebih dahulu berbuat baik), maka dialah yang akan menikmati kebaikan itu sebelum orang yang ditujukan akan kebaikan itu merasa gembira. Bukankah sering dipesankan, dengan menyalakan lilin orang lain, lilin kita tidak akan padam, malah kita akan mendapat lebih banyak cahaya? Suami yang menggembirakan isterinya akan gembira dan begitulah sebaliknya.

Saya ulangi, langkah paling utama menjaga kesuburan kebun cinta berusahalah selalu menggembirakan pasangan kita. Berbagai-bagai cara, aktiviti, perkara dan usaha boleh dilakukan untuk itu. Jangan kebuntuan jalan. Jangan ketandusan idea. Percayalah, bila hati sudah “mahu” kreativiti dan inovasi akan timbul dengan sendirinya. Jadilah “tukang kebun” cinta yang rajin dan setia.

Kata bijak pandai, dunia akan menyediakan jalan kepada orang yang mempunyai tujuan. Orang yang sudah mempunyai tujuan, umpama air yang sedang mengalir, tidak payah ditunjukkan ke arah mana hendak mengalir. Air itu tahu dengan sendirinya! Begitulah juga suami atau isteri, jika mereka memang tukang kebun cinta yang setia, tidak payah diajar untuk mengairi, membajai dan menjaga kebun cintanya.

Kaedah pertama untuk menjaga perasaan ialah dengan memberi senyuman. Berilah senyuman kepada isteri atau suami kita. Senyuman itu ada dua jenis. Pertama, kerana gembira. Kedua, kerana ingin menggembirakan. Kalau senyum kerana gembira, itu biasa-biasa sahaja. Siapa pun akan tersenyum jika ada sesuatu yang lucu atau menyenangkan. Senyuman jenis ini, kurang nilainya.

Senyuman yang luar biasa dan mahal harganya ialah senyuman untuk menggembirakan orang lain. Sungguh pun ada kalanya dalam hati sendiri bergelojak dengan masalah, badan sendiri sedang sakit, diri sedang letih, tetapi demi pasangan di depan mata kita senyumlah jua. Bukan kerana gembira tetapi ingin menggembirakan.

Wah, itu payah. Namun kerana Allah, demi cintakan isteri atau untuk mentaati suami, kita tersenyum juga… Inilah jenis senyuman yang dikaitkan dengan iman, yang disamakan dengan satu sedekah. Rugikah kita dengan senyuman itu? Tidak. Insya-Allah, niat kita untuk menggembirakan pasangan kita akan dibalas oleh Allah dengan kegembiraan yang setara atau yang lebih lagi.

Kedua, berilah salam. Jangan anggap salam itu hanya diberikan ketika hendak memasuki rumah atau ketika hendak bertemu dan berpisah sahaja. Pada hal salam boleh dihulurkan sebaik ingin tidur atau bangun dari tidur. Hulurkan salam dan senyuman waktu pertama kali bertentang mata selepas bangun dari tidur atau sebelum menutup mata untuk tidur. Atau jika bersua semula setelah sudah agak lama berada di tingkat atas (jika rumah dua tingkat) atau di bilik yang lain.

Ketiga, berjabat tangan. Budayakan isteri berjabat dan mencium tangan suami ketika mula bertemu atau hendak berpisah. Begitu juga para suami, jangan sekali-kali kedekut untuk menghulurkan tangan buat bersalaman. Jika terasa bersalah, cepatlah meminta maaf dengan menghulurkan salam. Bila dihulurkan tangan, jangan pula ego untuk tidak menyambutnya. Maafkanlah pasangan kita, bukan dengan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan yakni dengan cara berjabat salam.

Kesimpulannya, ingatlah tiga perkara yang akan menyuburkan kebun cinta kita – mengucapkan salam, memberi senyuman dan sering berjabat tangan. Salam itu umpama “baja”, senyuman itu umpama “air” dan berjabat tangan itu umpama cahaya di kebun cinta kita.

Insya-Allah, jika kebun cinta kita selalu diairi, dibajai dan diberikan cahaya, maka perasaan kita akan selalu gembira, fikiran kita akan positif dan tindakan-tindakan kita akan sentiasa membuahkan kebaikan. Dan itulah antara resipi “baiti jannati”.

Sekiranya, cintamu hampir menjadi pusara… tafakurlah sejenak di atasnya. Cari kembali dirimu dan dirinya. Bermulalah langkah “menghidupkan” semula cinta itu daripada dirimu sendiri. Dalam pencarian itu hendaklah selalu diingat… carilah di tempat dimana kita kehilangannya. Justeru, kita akan hanya menemuinya semula di tempat yang kita kehilangannya!

Ustaz Pahrol Juoi